Kutai Timur – Sejumlah organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar aksi bertajuk Gerakan Solidaritas Kutai Timur.
Aksi ini merupakan bentuk dukungan moral sekaligus desakan kepada aparat penegak hukum agar menindaklanjuti kasus meninggalnya pengemudi ojek online, Afan Kurniawan, yang tewas akibat terlindas kendaraan taktis barakuda Brimob saat kerusuhan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ketua KNPI Kutim, Avivurahman Al Ghazali, yang memimpin aksi tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar unjuk rasa. Menurutnya, gerakan ini juga menjadi wadah penyampaian aspirasi dan solidaritas terhadap dinamika sosial yang berkembang.
Dalam aksi tersebut, mereka membawa tiga petisi penting yang ditujukan kepada Kepolisian Resort (Polres) Kutai Timur.
Petisi pertama, mendesak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk menuntaskan kasus meninggalnya Afan Kurniawan secara terbuka dan transparan. Mereka menekankan agar proses hukum disampaikan secara jelas kepada publik.
Petisi kedua, meminta Polres Kutim tidak melakukan tindakan represif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Menurut mereka, pendekatan represif justru berpotensi memperkeruh suasana dan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.
Petisi ketiga, berisi ajakan bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Kutai Timur agar tetap aman, damai, dan kondusif. Para peserta aksi menilai stabilitas daerah menjadi kunci keberlanjutan pembangunan di tengah situasi nasional yang penuh tantangan.
Avivurahman juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah situasi yang rawan provokasi.
“Kalau Kutai Timur ikut terbelah, pembangunan pasti terhambat. Kepemudaan kita juga bisa pecah karena provokasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, perjuangan rakyat harus terus dilakukan, namun dengan cara-cara bijak.
“Pesan bisa tersampaikan, tapi yang paling penting jangan sampai ada aksi-aksi anarki. Aspirasi bisa disuarakan tanpa harus merusak atau melanggar hukum,” katanya.
Pihaknya juga meminta Polri memastikan tidak ada tindakan represif yang dapat mencederai kepentingan rakyat.
“Kepolisian harus berada di garis terdepan melindungi rakyat, bukan sebaliknya. Kedaulatan rakyat adalah keselamatan yang terbaik, dan itu harus jadi prinsip utama,” tegas Avivurahman.
Menariknya, aksi solidaritas ini digelar pada malam hari. Menurut panitia, waktu tersebut dipilih sebagai simbol ketenangan sekaligus bentuk penghormatan terhadap almarhum Afan Kurniawan.
Selain itu, mereka juga menyinggung insiden di sejumlah daerah lain. Di Makassar, misalnya, dilaporkan ada korban meninggal hingga empat sampai lima orang, sementara korban luka-luka jumlahnya masih banyak.
“Pesan ini harus sampai kepada institusi Polri. Polri dan TNI harus berbenah. Tidak boleh lagi ada benturan antara rakyat dengan penegak hukum. Polri juga harus jeli membaca situasi. Jangan sampai bangsa ini diadu domba. Rakyat dan aparat harus berjalan bersama membangun bangsa,” tutupnya.(Ciaa)













