Berita PilihanKaltimKutai TimurTNI/ POLRI

Cetak Sawah Rakyat Jadi Senjata Kutim Lawan Krisis Energi dan Inflasi

625
×

Cetak Sawah Rakyat Jadi Senjata Kutim Lawan Krisis Energi dan Inflasi

Share this article

Kaltim12.com,KUTIM – Di tengah tekanan gejolak energi global yang berdampak pada kenaikan harga dan gangguan distribusi, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan. Salah satu upaya strategis dilakukan melalui program Cetak Sawah Rakyat yang digencarkan oleh Kodim 0909/Kutim.

Program ini menjadi solusi nyata dalam menghadapi dampak inflasi yang dipicu oleh naiknya harga energi dunia. Tidak hanya fokus pada perluasan lahan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian pangan daerah agar tidak bergantung pada pasokan dari luar wilayah.

Kodim 0909/Kutim bersama pemerintah daerah dan masyarakat petani berkolaborasi membuka lahan-lahan baru yang potensial untuk dijadikan sawah produktif. Upaya ini dinilai penting mengingat sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pedesaan.

Selain mencetak sawah baru, program ini juga dibarengi dengan edukasi kepada petani. Mereka diberikan pemahaman terkait pola tanam yang efisien, penggunaan pupuk yang tepat, hingga pengelolaan energi dalam aktivitas pertanian.

Komandan Kodim 0909/Kutim, Letkol Arh Ragil S Yulianto, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas daerah. “Ketahanan pangan adalah fondasi utama ketahanan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi global yang tidak menentu menuntut daerah untuk mampu berdiri secara mandiri, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan. “Jika kebutuhan pangan tercukupi, maka dampak krisis global bisa diminimalisir,” tegasnya.

Hasil dari program ini mulai terlihat dengan meningkatnya produksi padi di beberapa wilayah yang telah menjalankan cetak sawah. Peningkatan ini secara langsung mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah.

Dengan ketersediaan pangan yang lebih stabil, masyarakat Kutim juga tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga di pasar. Hal ini menjadi indikator bahwa program tersebut mampu menahan laju inflasi di tingkat lokal.

Tak hanya berdampak pada ketahanan pangan, kegiatan ini juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Mulai dari proses pembukaan lahan hingga pengelolaan sawah, tenaga kerja lokal terserap secara signifikan.

Perputaran ekonomi di desa-desa pun ikut meningkat seiring bertambahnya aktivitas pertanian. Hal ini menjadi efek domino positif dari program yang digagas secara kolaboratif tersebut.

Ragil juga menekankan pentingnya sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menyukseskan program ini. “Kolaborasi ini menjadi kunci agar program berjalan maksimal dan berkelanjutan,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa program ini selaras dengan kebijakan nasional dalam mewujudkan swasembada pangan. “Ini bagian dari upaya bersama untuk mendukung program pemerintah pusat dalam memperkuat sektor pertanian,” tambahnya.

Melalui program Cetak Sawah Rakyat, Kutai Timur menunjukkan bahwa di tengah ancaman krisis energi global, langkah konkret dan kolaboratif mampu menjadi solusi. Kemandirian pangan pun kini menjadi harapan sekaligus kekuatan baru dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.